Jumat 8 Mei 2026 - 20:09
Sejarawan Terkemuka Israel: Pemikiran Zionisme Telah Berujung pada Genosida

Hawzah/ Omer Bartov, sejarawan terkemuka Israel, dengan kembali membuka perdebatan di tingkat internasional mengingatkan bahwa perjalanan evolusi politik Zionisme telah berujung pada proses-proses yang bersifat genosidal terhadap rakyat Palestina dan membentuknya sebagai sebuah proyek yang disertai kekerasan struktural dan penyingkiran sistematis.

Berita Hawzah — Wawancara yang diterbitkan pada 24 April 2026 di surat kabar Haaretz kembali memicu perdebatan internasional mengenai peran Zionisme dan mengkritisi secara serius keseluruhan jalur sejarah dan politiknya. Tokoh utama dalam wawancara ini, Omer Bartov, salah satu peneliti Holocaust paling terkemuka, dalam buku terbarunya menyajikan pembacaan yang sangat kritis dan memandang evolusi proyek Zionis sebagai suatu proses yang terikat dengan kekerasan struktural dan penyingkiran sistematis.

Bartov dalam wawancara tersebut menegaskan bahwa Zionisme dalam realisasi sejarah dan politiknya telah melahirkan proses-proses yang secara terang bersifat genosidal terhadap rakyat Palestina. Sikap tegas ini segera memicu perdebatan sengit di kalangan akademik dan politik internasional.

Wawancara ini bertepatan dengan terbitnya buku barunya; sebuah karya di mana sejarawan Israel terkenal ini membongkar fondasi proyek Zionis dan menggambarkannya sebagai sebuah jalur yang disertai kekerasan struktural dan penyingkiran sistematis. Menurut Bartov, persoalan ini bukanlah sesuatu yang bersifat sementara atau kebetulan, melainkan berakar pada kerangka ideologis dan politik yang selama beberapa dekade telah mengarahkan proses tersebut.

Judul yang beredar di ruang maya, dengan ungkapan yang tajam dan berdampak kuat, turut membantu menyebarluaskan pandangannya dan memperjelas dimensi pengungkapan yang berani ini. Secara keseluruhan, analisis Bartov merupakan kritik mendasar terhadap Zionisme sebagai sebuah proyek politik; proyek yang pada akhirnya telah mengarah pada pembentukan rezim yang otoriter dan berlandaskan logika etno‑nasionalis, chauvinistik, eksklusif, dan represif.

Reaksi muncul dengan segera dan sangat terpolarisasi: di satu sisi, mereka yang memandang pernyataannya sebagai pengungkapan yang perlu dan telah lama tertunda; pengungkapan yang menyingkap struktur dominasi, penindasan, serta narasi resmi yang dipaksakan, dan mengungkap hakikat nyata kebijakan Israel. Di sisi lain, para pembela keras kerangka ideologis tersebut tetap berdiri, meskipun rekam jejaknya dipenuhi diskriminasi, pendudukan, dan pelanggaran hak-hak dasar rakyat Palestina, dan mereka terus berupaya membenarkan serta mereproduksinya. Konfrontasi ini terjadi dalam suasana global yang telah sarat dengan kemarahan dan protes terhadap kebijakan pendudukan Israel; suatu suasana di mana bahasa dan konsep-konsep yang terkait dengan pendudukan tidak lagi diterima tanpa tantangan dan telah menjadi pusat kritik yang tegas dan terbuka.

Terlepas dari segala hiruk-pikuk tersebut, wawancara Bartov sekali lagi menyoroti sebuah realitas mendasar: adanya hubungan langsung antara ideologi Zionis dan mekanisme produksi serta pemantapan kekuasaan. Ia menunjukkan bagaimana keputusan-keputusan politik yang lahir dari pandangan eksklusif dan supremasis, dalam praktiknya telah mengarah pada terbentuknya suatu struktur yang melembagakan kekerasan, diskriminasi sistematis, ketimpangan yang mendalam, dan perampasan hak-hak dasar rakyat Palestina secara terus-menerus; konsekuensi nyata dan berkelanjutan yang tidak dapat disangkal atau dibenarkan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha